A’isyah binti Abu Bakar (menjadi istri di Dunia dan
Akhirat)
KEMULIAAN.
Itulah yang didapat wanita ini semasa hidup dan wafatnya. Betapa tidak, ia
tidak hanya menjadi istri Rosululloh shallallahu
‘alaihi wa sallam di dunia, tetapi juga di akhirat. Ketika wahyu datang
pada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa
sallam, Jibril membawa kabar bahwa A’isyah adalah istrinya di dunia dan
akhirat, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits dari A’isyah,”Jibril
datang membawa gambarnya pada sepotong sutra hijau kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu
berkata, ‘Ini adalah istrimu di dunia dan di akhirat’” (HR. Tirmidzi).
Dialah yang menjadi sebab atas turunnya firman Alloh
Subhanahu wa Ta’ala yang menerangkan
kesuciannya dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik pada peristiwa Haditsul-Ifki.
//Peristiwa Haditsul-Ifki terjadi
pada 6H. Ketika Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin baru
pulang dari Perang Muraisi atau bani Musthaliq. A’isyah di fitnah melakukan
perbuatan tidak baik dengan Shafwan bin Mu’aththal. Alloh menurunkan firman-Nya
dalam surah An-Nur ayat 26 yang berbunyi “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki
yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula),
sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan
laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu
bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka mempperoleh ampunan dan rezeki yang
mulia (surga).”
A’isyah dilahirkan empat tahun sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus
menjadi Rosul. Semasa kecil dia bermain-main dengan lincah dan ketika dinikahi
oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa
sallam, usianya belum genap sepuluh tahun. Dalam sebagian besar riwayat
disebutkan bahwa Rosululloh shallallahu
‘alaihi wa sallam membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.
Dua tahun setelah wafatnya Khadijah,
datang wahyu kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam untuk menikahi A’isyah. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada
A’isyah,”Aku melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat
mendatangiku dengan membawa gambarmu pada selembar sutra seraya berkata,’Ini
adalah istrimu’. Ketika aku membuka tabirnya, tampaklah wajahmu. Kemudian aku
berkata kepadanya,’Jika ini benar dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala, niscaya akan terlaksana.”
Mendengar kabar itu, Abu Bakar dan istrinya sangat
senang, terlebih lagi ketika Rosululloh shallallahu
‘alaihi wa sallam setuju menikahi putri mereka, A’isyah. Beliau mendatangi
rumah mereka dan berlangsunglah
pertunangan yang penuh berkah itu. Setelah pertunangan itu, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke
Madinah bersama para sahabat, sementara istri-istri beliau ditinggalkan di
Mekah. Setelah beliau menetap di Madinah, beliau mengutus orang untuk menjemput
mereka, termasuk di dalamnya A’isyah radhiyallohu
‘anha.
Dengan izin Alloh Subhanahu wa Ta’ala menikahkan A’isyah
dengan maskawin 500 dirham. A’isyah tinggal di kamar yang berdampingan dengan
Masjdi Nabawi. Dikamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut
juga sebagai tempat turunnya wahyu. Di hati Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, kedudukan A’isyah sangat istimewa,
dan tidak dialami oleh istri-istri beliau yang lain. Dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan,”Cinta pertama yang terjadi di dalam
Islam adalah cintanya Rosululloh shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada A’isyah radhiyallahu
‘anha.”
Dalam riwayat Tirmidzi dikisahkan
“bahwa ada seseorang yang menghina A’isyah di hadapan Ammar bin Yasir sehingga Ammar
berseru kepadanya.’sungguh celaka kamu. Kamu telah menyakiti istrafi’cintaan
Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa
sallam.’”
Walaupun perasaan cemburu istri-istri Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap
A’isyah sangat besar, mereka tetap menghargai kedudukan A’isyah yang sangat
terhormat. Bahkan ketika A’isyah wafat Ummu Salamah berkata, “Demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dia adalah manusia
yang paling beliau cintai selain ayahnya (Abu Bakar).”
Di
antara istri-istri Rosululloh shallallahu
‘alaihi wa sallam, Saudah binti Zam’ah sangat memahami keutamaan-keutamaan
A’isyah, sehingga dia merelakan seluruh malam bagiannya untuk A’isyah. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa A’isyah sangat memperhatikan sesuatu yang
menjadikan Rosululloh shallallahu ‘alaihi
wa sallam rela. Dia menjaga agar jangan sampai beliau menemukan sesuatu
yang tidak menyenangkan darinya. Karena itu, salah satunya, dia senantiasa
mengenakan pakaian yang bagus dan selalu berhias untuk Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menjelang
wafat, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa
sallam meminta izin kepada istri-istrinya untuk beristirahat di rumah
A’isyah selama sakitnya hingga wafat. Dalam hal ini A’isyah berkata, “merupakan
kenikmatan bagiku karena Rosululloh shallallahu
‘alaihi wa sallam wafat di pangkuanku.”
Bagi A’isyah, menetapnya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam selama
sakit di kamarnya merupakan kehormatan yang sangat besar karena dia dapat
merawat beliau hingga akhir hayat. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dikuburkan di kamar A’isyah, tepat di
tempat beliau meninggal.
Dalam tidurnya, A’isyah pernah
bermimpi melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya. Ketika dia memberitahukan
hal ini kepada ayahnya, Abu Bakar berkata,”Jika yang engkau lihat itu benar,
maka di rumahmu akan dikuburkan tiga orang yang paling mulia di muka bumi.”
Ketika Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu
Bakar berkata, ”Beliau adalah orang yang paling mulia di antara ketiga
bulanmu.” Ternyata Abu Bakar dan Umar dikubur di rumah A’isyah.
Setelah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat,
A’isyah senantiasa dihadapkan pada cobaan yang sangat berat, namun dia
menghadapinya dengan hati yang sabar, penuh kerelaan terhadap takdir Alloh Subhrafi’ wa Ta’ala dan selalu berdiam diri
di dalam rumah semata-mata untuk taat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Rumah
A’isyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala penjuru untuk menimba
ilmu atau untuk berziarah ke makam Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Ketika istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengutus Utsman menghadap
Khalifah Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan bagian mereka, A’isyah
justru berkata. “Bukankah Rosululloh shallallahu
‘alaihi wa sallam telah berkata, ‘Kami para Nabi tidak meninggalkan harta
warisan. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah.”
Dalam penempatan hukum pun, A’isyah
kerap langsung menemui wanita-wwanita yang melanggar syariat Islam. Dalam Thabaqat, Ibnu Sa’ad mengatakan bahwa Hafshah
binti Abdirrahman menemui Ummul Mukminin A’isyah radhiyallahu ‘anha. Ketika itu Hafshah mengenakan kerudung tipis.
Secepat kilat A’isyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan
kerudung yang tebal.
A’isyah tidak pernah mempermudah
hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari Al-Qur’an dan Sunnah. A’isyah
adalah orang yang paling dekat dengan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga banyak menyaksikan turunnya
wahyu kepada beliau. A’isyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung
kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa
sallam jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ia memperoleh ilmu langsung dari
Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam.
A’isyah termasuk wanita yang banyak menghafalkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga
para ahli hadits menempatkan dia pada urutan kelima dari para penghafal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas
bin Malik, dan Ibnu Abbas.
Dalam hidupnya yang penuh dengan
jihad, Sayyidah A’isyah penuh dengan kemuliaan, kezuhudan, ketawadhuan,
pengabdian sepenuhnya kepada Rosululloh shallallahu
‘alaihi wa sallam, selalu beribadah serta senantiasa melaksanakan shalat
malam. Selain itu, A’isyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga dalam rumahnya
tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bersabda, “Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji
kurma” (HR. Ahmad).
Opini : Inilah A'isyah sosok wanita idaman yang didambakan oleh pria maupun wanita. Sesosok wanita tangguh dengan Kemuliaan dan Keutamaannya serat Kedudukan beliau dimata Rosul kita tercinta. Inilah Mutiara Teladan yang telah di contohkan A'isyah kepada kita:
- Perlakuan baik seorang istri dapat membekas pada diri suami dan hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang suami yang akan selalu ia kenang hingga ajal menjemputnya.
- Hendaklah para wanita menjaga mahkota dan kesuciannya, karena kecantikan dan keelokan itu adalah amanah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus senantiasa ia jaga dan tidaklah boleh dia peruntukkan kecuali kepada yang berhak atasnya.
- Hendaklah para istri mereka belajar dan mencontoh keShalihan suaminya. Istri, pada hakikatnya adalah pemimpin yang di tangannya ada tanggung jawab besar tentang pendidikan anak dan akhlaknya, karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
